Halaman

Sabtu, 24 September 2011

Struktur Sosial di Desa Santri


Istilah elit sering dikonotasikan secara negative oleh masyarakat awam. Mereka menganggap kaum elit adalah kaum yang hidup dalam kemewahan, paling tidak hidup tanpa kekurangan. Tetapi, elit dalam ilmu sosiologi memiliki makna yang berbeda. Elit dalam ilmu sosiologi didefinisikan sebagai anggota suatu kelompok kecil dalam masyarakat yang tergolong disegani, dihormati, kaya, dan berkuasa.
            Kelompok elit (minoritas) seharusnya menjadi acuan tindakan bagi massa (mayoritas). Dua pendapat tentang kelahiran kelompok elit :
1.      Lahir dari proses alam (orang-orang yang diberi kepandaian oleh Tuhan)
2.      Lahir dari kompleksitas organisasi sosial

Kalangan elit banyak dijumpai di daerah perkotaan. Namun, tak jarang juga dijumpai kalangan elit yang berada di pedesaan. Kalangan elit di desa adalah masyarakat yang mempunyai jabatan formal dalam kelembagaan desa, maka dari itu jumlahnya tergolong relatif sedikit.
Kaum elit informal sangat berperan penting dalam memobilisasi anggota masyarakat dalam menyampaikan suatu  kritik dan saran untuk pemerintah. Sangat disayangkan ternyata studi-studi mengenai peranan kelompok elit dalam implikasi proyek-proyek pembangunan di negara sedang berkembang masih menekankan perhatiannya pada elit-elit institusional yakni mereka yang berada pada puncak strata masyarakat karena jabatan formal.
Akhirnya dibuatlah suatu penelitian tentang kalangan elit di luar birokrasi. Fenomena tentang kalangan elit di luar biruokrasi mulai diteliti di desa santri yang masyarakatnya sangat kuat dalam menjalankan syariat Islam.
Mengapa di desa santri? Hal ini disebabkan bahwa kalangan elit tidak hanya menjadi referensi sikap, tetapi juga sebagai panutan dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Berikut ini adalah penelitiannya  :
A.      Ruang lingkup penelitian : tiga desa santri di Kabupaten Jombang, Jawa Timur
B.      Alasan pemilihan daerah :
1.      Banyak anggota masyarakat yang menjadi pengikut Qodiriyah Naqsabandiyah
2.      Memiliki daya dukung yang kuat terhadap ketahanan organisasi sosial politik Islam.
C.      Tujuan penelitian :
Mengidentifikasi struktur interaksi elit dalam mengakomodasi implementasi proyek pembangunan pedesaan.
D.     Permasalahan :
Ingin mengetahui konfigurasi posisi masing-masing anggota kelompok elit dalam jaringan interaksinya.
E.      Proyek yang diteliti :
1.      Supra Insus Padi (penyempurnaan proyek peningkatan produksi padi)
2.      Tebu Rakyat Intensifikasi (menghindari sistem sewa tanah antara petani dan pabrik gula)
3.      Bantuan Desa (pendorong terciptanya desentralisasi pembangunan pedesaan)
F.       Pendekatan yang digunakan : 1. Positional approach
                                                  2. Reputational approach
                                                  3. Decisional approach
      G.   Responden utama : 37 pamong desa ; 18 pemuka agama ; 24 petani kaya
      H.   Informasi dari hasil pembacaan data klik:
1.      Hampir semua anggota kelompok elit saling berinteraksi secara sosiometris.
2.      Kelompok elit pemuka agama tidak hanya kurang menjalin interaksi dibanding responden lain, tetapi merekajuga kurang menjalin hubungan tidak langsung dengan kawan interaksinya.
3.      Hampir tidak terdapat homophily atau pengelompokan berdasarkan persamaan kategori elit.
4.      Peranan kelompok elit pemuka agama dalam jaringan lebih sedikit daripada responden lain.

Berdasarkan hasil penelitian di tiga desa santri tersebut, ternyata peran kelompok pemuka agama terkesampingkan. Hal ini disebabkan oleh dominasi pemerintah dalam mengelola wilayah pedesaan. Seperti banyaknya institusi-institusi di lembaga pedesaan yang diketuai oleh Kepala Desa dan kepengurusannya didominasi pamong desa. Maka kita tidak perlu heran bila kelompok elit pamong desa mewarnai jenis rancangan proyek dan besarnya usulan budgeting proyek.
Sudah seharusnya interaksi antar kelompok elit (pamong desa, pemuka agama, dan petani kaya) diubah kea rah hubungan yang koordinatif yang dilandasi keinginan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat desa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar